Monday, 1 April 2013 -
0
comments
0
comments
Pejamku Adalah Rumah Bagi Bayangmu
Sorak sorai gemuruh kagum orang-orang membuat terik siang itu semakin memanas. kuusap peluh yang mengalir berlahan di kening, kututupi terik yang menusuk mataku dengan telapak tanganku. di balik celah jemari kurusku, tesorot sosok tampan yang tengah asik bergelut dengan cameranya, mengabadikan performa menawan para peserta karnaval berserta kostum gemulai beragam warnanya.
“siapakah gerangan?” gumamku pelan, lelaki itu tersentak merasa terpanggil. dia pun menoleh dan tersenyum kearahku lalu kembali asik bermain dengan cameranya. aku yang tersentak terguyur malu hanya diam dan kaku. sesekali aku benahi letak rambutku yang acak terhembus angin, dan sesekali aku melirik kearah lelaki tampan tadi. hilang.
“kemana dia?!” sontak ku mencarinya dengan menggerakan bola mataku dengan siaga ke kanan dan ke kiri. tanpa sadar saat aku merasa kebingungan, lelaki yang tengah aku cari telah duduk dengan manisnya disampingku. aku secepat kilat mencoba kembali terlihat tenang dan menyandarkan tubuh pada bangku kayu yang lapuk. alasan menengok seperti mencari seseorang, aku mencuri kesempatan untuk melihat wajahnya dari dekat di sebelahku. lelaki itu masih asik dengan cameranya, sepertinya dia tengah melihat-lihat hasil foto yang telah dia abadikan tadi.
“hai..” sapanya.
“eh, hai..” jawabku terkejut, malu. aku mulai menanyakan hal-hal yang sekiranya dia gemari menurut pengamatan singkatku. rupanya, lelaki dengan lesung pipit itu adalah penggila dunia fotografi. dia terlihat begitu mempesona siang itu dengan kaos berwarna abu, tampan. belum puas ku berbicara dengan sosoknya, dia pergi. mungkin dia ingin kembali mengabadikan karnaval itu. aku mengiyakan tanda setuju dia pergi, walau sesungguhnya aku masih ingin menahannya lebih lama di sisiku. namun, siapa aku?
baru saja rasanya aku menikmati gemulai jemari yang lihai itu memainkan cameranya, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan mengajakku pergi dari sana. Jonathan, kekasihku yang tengah murka denganku. sepele, karena aku tak bisa menemaninya untuk ikut serta pergi bersamanya dan memilih untuk pergi sendiri menikmati karnaval batik tahunan itu. dia terus saja menarik dan mencaciku sepanjang jalan hingga hilangku di tikungan jalan. aku menghentikan langkahku, Jonathan memandangku amat marah.
“bisa tidak berlaku seperti ini setiap kali apa yang kamu inginkan belum bisa aku penuhi?” ujarku pelan dengan memandangnya letih. Jonathan hanya diam, dia melepaskan genggamannya yang menurutku begitu erat. aku mengusap-usap pergelangan tanganku berlahan, dia menatapku menyesal. kami mulai membicarakan hal sepele yang selalu terulang terus menerus walau seusai kata maaf dan tidak akan terulang lagi. untuk kali ini aku memaafkannya, lagi, dengan percaya yang mulai rapuh untuk terus kokoh.
***
di malam setelah terik yang begitu menyengat, terasa teduh saat kuingat lelaki yang begitu menyegarkan itu. terngiang-ngiang dalam memori lembut getar suaranya saat menyapaku, pesona senyum dengan kumis tipis di wajahnya, lihai jemarinya saat mengoperasikan camera, semua itu membuatku tersentak ingat bahwa aku belum sempat bertanya, siapa namanya.
“mungkin memang belum jodohku untuk mengetahui siapa dirinya. lagi pula siapa aku, siapa dia?” gumamku melegakan dalam hati. letih diri memaksaku menghempaskan tubuhku ke dalam pelukan lembut kasur. sembari mendengarkan sayu lagu lama yang ku putar, ku pejamkan mata dan ku coba ingat kembali hangat sapaan singkat yang aku dan lelaki itu bangun. dalam pejam mataku, hanya ada kami berdua, hanya ada aku dan lelaki itu.
“Ketidakwarasan Padaku
Membuat Bayangmu Slalu Ada
Menentramkan Malamku
Mendamaikan Tidurku”
Inspired by Sheila On 7 – Ketidakwarasan Padaku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment